Maggot mempunyai peluang sebagai pakan ikan atau untuk mensubstitusi tepung ikan karena mempunyai kandungan nutrisi tidak jauh berbeda dengan tepung ikan terutama tepung ikan lokal dan dapat diproduksi dalam kuantitas yang cukup dalam waktu yang singkat secara berkesinambungan.

Secara umum diketahui bahwa tepung ikan yang ada dipasaran berasal dari impor seperti Peru dan Chili, dengan adanya pembatasan produksi dan permintaan akan tepung ikan di dalam negeri yang tidak mampu dipenuhi oleh produksi sendiri sehingga membuat harga tepung ikan menjadi mahal.

Untuk memenuhi kekurangan akan permintaan tepung ikan, mungkin dapat dipenuhi dengan menggunakan tepung maggot. Perbandingan kandungan gizi beberapa tepung ikan dan maggot dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Analisa proksimat dan tepung ikan, maggot, bungkil kelapa sawit (PKM)

Sumber : Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak UNPAD, 2009.

 

Tabel 2. Kandungan Asam Amino Esensial, Mineral dan Nutriren Lainnya dari Prepupa H. illucens pada Manur Babi (Newton, 2009)

Dari tabel 1, terlihat bahwa kadar protein maggot lebih rendah dari tepung ikan impor dan tepung ikan lokal. Dari beberapa pengamatan menunjukan bahwa, kadar protein maggot BSF sangat ditentukan oleh kandungan protein media yang digunakan dan umur maggot yang dipanen. Semakin tinggi kadar protein media dan semakin cepat maggot dipanen, maka akan semakin tinggi pula kadar proteinnya demikian sebaliknya.

Atas alasan kemudahan yang didapat secara umum di setiap lokasi di Indonesia, maka kami melakukan budidaya maggot bsf dengan menggunakan limbah organik pasar sebagai bahan makanannya. Kegiatan ini juga secara langsung dapat diandalkan untuk menekan permasalahan sampah organik.

 

 

(Mitra Peternak Indonesia l www.maggotBSF.com)