Percaya atau tidak, 70% dari komponen biaya produksi pada budidaya lele adalah pakan. Hal itu tak lepas dari semakin mahalnya salah satu bahan utama pakan pabrik, yakni tepung ikan. Harga pakan pabrik saat ini mencapai Rp10.000/kg. Akhirnya, kondisi itu memaksa peternak mencari alternatif dengan membuat pakan sendiri. Pakan buatan itu memakai bahan-bahan seperti dedak halus (bekatul), ampas tahu, jagung giling, dan tepung tapioka yang dikombinasi dengan ayam tiren atau ikan rucah sebagai sumber protein hewani.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, pertumbuhan lele akan optimal dengan pelet yang mengandung protein minimal 32%. Dengan kadar protein 32%, efisiensi konversi pelet terhadap bobot lele mencapai 60—80%. Harga per-kg pelet berprotein tinggi ini memang lebih mahal. Namun, jika dibandingkan dengan bobot tubuh yang dihasilkan serta masa panen yang lebih cepat, biaya produksinya tetap lebih rendah. (sumber : www.litbang.pertanian.go.id)

Kehadiran Maggot BSF sebagai sumber protein alternatif bagi ternak lele selanjutnya memberikan kontribusi yang sangat signifikan. Dengan kandungan proteinnya yang sangat tinggi, yaitu di kisaran 45%, menjadikan komoditas ini semakin banyak dilirik oleh para peternak skala kecil, menengah maupun para peternak dengan kapasitas produksi yang besar.

Estimasi penghematan dari sisi pakan, dengan mempergunakan Maggot BSF adalah sekitar 25 hingga 50%. Angka ini mengindikasikan bahwa dengan asumsi 70% biaya budidaya diperuntukkan bagi pakan, maka efisiensi total budidaya ikan lele dengan tambahan Maggot BSF sebagai sumber protein adalah sebesar 18 hingga 37%. Sebuah efisiensi yang dapat diharapkan dan benar-benar signifikan.

Melalui strategi Integrated Farming System, kami Mitra Peternak Indonesia berkomitmen untuk berbagi bersama para peternak lele seluruh Indonesia. Kami berharap, dengan efisiensi ini, dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi para peternak, yang pada gilirannya dapat meningkatkan keterjangkauan masyarakat luas terhadap komoditas ikan lele.